Rabu, 12 Desember 2012
… … … (part…)
Dua mata saling bertemu di sore berlangit jingga. Disentuh lembutnya hembusan angin sore yang mengajak diri untuk menorehkan senyum. Dirinya, hanya terpaku menatapku. Tangannya terangkat, mengajakku untuk ikut bersamanya. Dalam dekapan hangat, tangannya melingkar dipinggangku. Merasa hanya aku, dan dia meminta hanya aku yang jadi miliknya. Matanya bertemu lagi denganku. Hanya diam. Tak berkata. Dia kembali melihat kedepan., tertuju pada pandangan luas yang tak terarah. Seolah bertanya, “kau mau aku ajak kemana?”
Dirinyalah saat ini, aku terbuai olehnya untuk tergabung dalam alunan melodi sebuah romantisme.
Akulah sang audiens pembawa cerita indah dari dirinya, dia sang conductor dan aku pendengar yang baik dari simfoni yang dia ciptakan dari dunianya. Sang maestro yang memberikan inspirasi bagi pencintanya.
Pembawa pesan percintaan yang tak akan pernah bosan dan beralih. Aku disini yang menantinya dari jutaan karakter manusia tak terduga. Tak sengaja bertemu hati dengannya. Menunggu satu ungkapan dari sang Pencipta.
Paris, I’ll go there !!!
Kau begitu memikatku.
Bukan karena kau kota romantis, bukan karena kau kiblat mode fashion di dunia
Bukan pula karena kau menjadi tempat bagi seniman berkarakter
Kau seperti mengundangku untuk mendatangimu. Kau seperti ingin memberikanku sesuatu, kejutan yang selama ini tak pernah atau bahkan terfikir untuk ku ingini.
Aku tak begitu banyak tau tentangmu. Aku hanya bisa berucap, “J T’aime” hanya itu yang aku tau dari bahasamu. Aku hanya tau sang Eiffel dan escargot. Aku buta pengetahuan akan dirimu.
Tapi sekali lagi, kau membuatku menjadikanmu sebagai impianku. Aku selalu mengutarakan kepada orang-orang. Bahwa aku memiliki mimpi besar untuk mendatangimu suatu saat nanti. Entah seperti latahan, kini semua orang disekitarku juga memiliki mimpi yang sama untuk mendatangimu. Apa kau seakan mengundang mereka semua??
Aku tak pernah ingin tau apa alasan mereka juga ingin mendatangimu. Aku hanya ingin membenarkan udanganmu untuk mengunjungimu suatu hari nanti. Akan aku ajak keluargaku, dan satu orang yang akan mendampingiku untuk bisa berjalan bersama menikmati keindahan yang ada pada dirimu.
Kau tau? Sudah ada satu orang yang ingin sekali aku ajak untuk menemuimu. Aku ingin tinggal diatasmu dan membangun kehidupanku disana. Apakah kau tau, dia yang benar-benar akan menemaniku saat aku menemuimu nanti? Saat ini aku hanya mengamini semua yang ingin dia lakukan. Termasuk saat ingin menemaniku nanti
Kau tau lagi?? Kau begitu menakjubkan untuk dijadikan sebuah mimpi.
Kau, adalah hal yang tak mungkin. Tapi dari keyakinan seperti itu aku anggap semua yang hanya bisa bermimpi untuk mendatangimu yang benar-benar akan memenuhi undanganmu.
Entah kenapa aku begitu yakin, aku akan memenuhi undanganmu. Benarkah itu akan terjadi?
Berjalan kaki disepanjang pinggiran sungai, duduk di kursi di bawah pohon ceri yang mulai berbunga. Atau menikmati makan siang dipinggir danau buatan. Mengunjungi sang Eiffel pada malam hari, atau mencoba berjualan bunga khas darimu dengan gerobak cantik berwarna dasar putih.
Semua itu sudah terbayang jelas dalam fikiranku. Mengambil gambar dari sudut kotamu, dengan kamera yang aku beli dengan jeri payahku. Untuk mengabadikan setiap detik kenangan indahku saat memenuhi undanganmu.
Kenapa aku begitu memujamu? Jika aku meyakininya, akankah aku benar-benar datang?
Semua cerita indah itu akan aku tulis disini, dan kembali dimana saat aku masih memegang undangan itu
Biar?kan?
dulu dia yang berjalan dibelakangku, dan dia mencoba menyamakan langkah dan berjalan disampingku. Ketika langkah kita hampir sama, dia berlari jauh meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya dengan berlari. Tapi entah kenapa kaki ini sudah enggan melangkah untuk mengejarnya. Dia sudah terlalu jauh meninggalkanku. Meninggalkan sebuah komitmen yang hampir tercipta dari langkah yang sama.
Aku tak sanggup memintanya kembali dan menyamakan langkah denganku kembali. Aku tak ingin menghancurkan langkah yang sudah sejauh ini dia tempuh. Tapi diri ini tak bisa berhenti menganggapnya telah menghianati.
Semua yang pernah diutarakan, saat langkah ini sengaja aku samakan dengannya. Saat aku telah mengizinkannya untuk berjalan disampingku. Semua itu begitu membuatku ingin dia kembali. Semua kesediaanku untuk menerimanya hadir disampingku sebagai seorang yang aku ingini.
Sekarang.. tak mungkin.
Minggu, 09 Desember 2012
WISH???
Hujan terus
turun beberapa hari ini. Air menetes dari ujung genting, hawa dingin, jendela
berembun dan aku menatapnya. Begitu kelabu. Ke… la… bu… hanya itu yang
tergambar. Dinginnya udara menembus pori-pori kulit tak kupedulikan. Tersadar
dari tatapan kosongku yang terpaku menatap jendela.
Tuhan, sesulit
inikah? Semua menjadi tidak begitu jelas. Hanya sebuah fatamorgana ditengah
gurun pasir yang memberikan harapan kosong. Kaki ini sudah tak sanggup
melangkah. Otak ini sudah tak habis fikir. Hati ini sudah begitu tercabik. Dan
air mata ini sudah tak mampu lagi mengobati segala lara. Ketika Engkau
menetapkannya, aku berusaha menerima dengan begitu senang hati. Tapi memang
hidup itu bagai siklus yang melingkar. Kita tak selalu diatas, dan tak selalu
dibawah. Aku tak pernah memintanya, tapi Engkau memintaku untuk menerima dan
menjalaninya.
Mungkin, atau
memang benar aku terlalu memuja dan terlewat bahagia. Otak ini berfikir terlalu
jauh, sehingga tak ada lagi logika. Ketika Engkau sudah menganggapku tak ada
rasa syukur, Engkau mengambilnya. Jauh… dari jangkauanku. Aku tersentak tak tau
harus apa ya Tuhan. Menganggapnya tak ada.. sangat tidak mungkin. Isi kepala
ini selalu membuatku menyisihkan waktu untuk berfikir seolah aku harus
memikirkannya lagi..lagi dan lagi.
Hujan kembali
deras… kaca itu semakin berembun..dingin itu semakin menusuk… dan suasana
semakin kelabu..
Aku tak
menemukan setitik cahayapun dari ini semua. Saat aku sudah memantapkan diri,
aku selalu kembali pada titik yang sama. Aku menganggap aku sebagai yang “NOL
BESAR” dalam hal ini. Mengapa tak semudah mengobati luka sayatan di jari dalam
melupakan hal ini. Aku tak meminta pertanggungjawaban apapun dan dari dari
siapapun. Aku tak meminta pengganti. Aku hanya ingin meyakini, bahwa Engkau
selalu menatapku.
Tuhan, benarkah
semua rasa itu berasal darimu? Mengapa aku jadi hambaMu yang tak sabaran dalam
menanti setiap takdir yang telah Engkau persiapkan untukku? Aku tak ingin
menerka-nerka. Aku tak ingin terus berharap, karena tak ada yang ingin
mengharapkan kesedihan yang terus berlanjut. Karena berharap itu berbeda dengan
mimpi.
Langganan:
Komentar (Atom)


