Hujan terus
turun beberapa hari ini. Air menetes dari ujung genting, hawa dingin, jendela
berembun dan aku menatapnya. Begitu kelabu. Ke… la… bu… hanya itu yang
tergambar. Dinginnya udara menembus pori-pori kulit tak kupedulikan. Tersadar
dari tatapan kosongku yang terpaku menatap jendela.
Tuhan, sesulit
inikah? Semua menjadi tidak begitu jelas. Hanya sebuah fatamorgana ditengah
gurun pasir yang memberikan harapan kosong. Kaki ini sudah tak sanggup
melangkah. Otak ini sudah tak habis fikir. Hati ini sudah begitu tercabik. Dan
air mata ini sudah tak mampu lagi mengobati segala lara. Ketika Engkau
menetapkannya, aku berusaha menerima dengan begitu senang hati. Tapi memang
hidup itu bagai siklus yang melingkar. Kita tak selalu diatas, dan tak selalu
dibawah. Aku tak pernah memintanya, tapi Engkau memintaku untuk menerima dan
menjalaninya.
Mungkin, atau
memang benar aku terlalu memuja dan terlewat bahagia. Otak ini berfikir terlalu
jauh, sehingga tak ada lagi logika. Ketika Engkau sudah menganggapku tak ada
rasa syukur, Engkau mengambilnya. Jauh… dari jangkauanku. Aku tersentak tak tau
harus apa ya Tuhan. Menganggapnya tak ada.. sangat tidak mungkin. Isi kepala
ini selalu membuatku menyisihkan waktu untuk berfikir seolah aku harus
memikirkannya lagi..lagi dan lagi.
Hujan kembali
deras… kaca itu semakin berembun..dingin itu semakin menusuk… dan suasana
semakin kelabu..
Aku tak
menemukan setitik cahayapun dari ini semua. Saat aku sudah memantapkan diri,
aku selalu kembali pada titik yang sama. Aku menganggap aku sebagai yang “NOL
BESAR” dalam hal ini. Mengapa tak semudah mengobati luka sayatan di jari dalam
melupakan hal ini. Aku tak meminta pertanggungjawaban apapun dan dari dari
siapapun. Aku tak meminta pengganti. Aku hanya ingin meyakini, bahwa Engkau
selalu menatapku.
Tuhan, benarkah
semua rasa itu berasal darimu? Mengapa aku jadi hambaMu yang tak sabaran dalam
menanti setiap takdir yang telah Engkau persiapkan untukku? Aku tak ingin
menerka-nerka. Aku tak ingin terus berharap, karena tak ada yang ingin
mengharapkan kesedihan yang terus berlanjut. Karena berharap itu berbeda dengan
mimpi.
0 komentar:
Posting Komentar