Minggu, 09 Desember 2012

WISH???

Diposting oleh Unknown di 05.23
Hujan terus turun beberapa hari ini. Air menetes dari ujung genting, hawa dingin, jendela berembun dan aku menatapnya. Begitu kelabu. Ke… la… bu… hanya itu yang tergambar. Dinginnya udara menembus pori-pori kulit tak kupedulikan. Tersadar dari tatapan kosongku yang terpaku menatap jendela.
Tuhan, sesulit inikah? Semua menjadi tidak begitu jelas. Hanya sebuah fatamorgana ditengah gurun pasir yang memberikan harapan kosong. Kaki ini sudah tak sanggup melangkah. Otak ini sudah tak habis fikir. Hati ini sudah begitu tercabik. Dan air mata ini sudah tak mampu lagi mengobati segala lara. Ketika Engkau menetapkannya, aku berusaha menerima dengan begitu senang hati. Tapi memang hidup itu bagai siklus yang melingkar. Kita tak selalu diatas, dan tak selalu dibawah. Aku tak pernah memintanya, tapi Engkau memintaku untuk menerima dan menjalaninya.
Mungkin, atau memang benar aku terlalu memuja dan terlewat bahagia. Otak ini berfikir terlalu jauh, sehingga tak ada lagi logika. Ketika Engkau sudah menganggapku tak ada rasa syukur, Engkau mengambilnya. Jauh… dari jangkauanku. Aku tersentak tak tau harus apa ya Tuhan. Menganggapnya tak ada.. sangat tidak mungkin. Isi kepala ini selalu membuatku menyisihkan waktu untuk berfikir seolah aku harus memikirkannya lagi..lagi dan lagi.
Hujan kembali deras… kaca itu semakin berembun..dingin itu semakin menusuk… dan suasana semakin kelabu..
Aku tak menemukan setitik cahayapun dari ini semua. Saat aku sudah memantapkan diri, aku selalu kembali pada titik yang sama. Aku menganggap aku sebagai yang “NOL BESAR” dalam hal ini. Mengapa tak semudah mengobati luka sayatan di jari dalam melupakan hal ini. Aku tak meminta pertanggungjawaban apapun dan dari dari siapapun. Aku tak meminta pengganti. Aku hanya ingin meyakini, bahwa Engkau selalu menatapku.
Tuhan, benarkah semua rasa itu berasal darimu? Mengapa aku jadi hambaMu yang tak sabaran dalam menanti setiap takdir yang telah Engkau persiapkan untukku? Aku tak ingin menerka-nerka. Aku tak ingin terus berharap, karena tak ada yang ingin mengharapkan kesedihan yang terus berlanjut. Karena berharap itu berbeda dengan mimpi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

prameswari's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos